Breaking News
Home / profil / Profil dan Sejarah Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an

Profil dan Sejarah Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an

10360192_648768071883115_6920067769214619726_nPondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an (PTYQ Dewasa) merupakan salah satu lembaga pendidikan non formal di bawah naungan Yayasan Arwaniyah. Lembaga pendidikan yang berupa pesantren salaf ini menitiktekankan pada pengajaran Al Qur’an, yaitu meliputi tahsin (pembenaran bacaan), tahfidh (hafalan) dan qiro’ah sab’ah.

PTYQ dewasa atau yang biasa disebut PTYQ pusat, terletak kurang lebih 1,5 km dari pusat kota Kudus dan tidak jauh dari kompleks makam Sunan Kudus. Tepatnya berlokasi di Jl. KH.M Arwani, kelurahan kajeksan, Kudus.

Cikal bakal pesantren ini berawal dari pengajian yang diampu oleh KH. M. Arwani Amin yang telah dimulai sejak tahun 1942 di masjid Kenepan. Di Masjid ini beliau menerima para santri yang ingin belajar Al Qur’an baik bin nadhor maupun bil ghoib. Pengajian ini sempat terhenti pada rentang waktu antara tahun 1947 s.d 1957 disebabkan kesibukan beliau menuntut ilmu Thariqoh di pesantren Popongan, Solo. Setelah tahun 1957 pengajian itu pun kembali berlanjut. Pada th 1962, KH. M. Arwani menempati sebuah rumah baru di kelurahan Kajeksan, maka tempat pengajian pun turut dipindahkan tak jauh dari rumah beliau yang baru yaitu di masjid Busyro latif.

Seiring berjalannya waktu, santri yang belajar pada beliau semakin bertambah. Beliau pun berniat untuk mendirikan sebuah pesantren untuk menampung para santri agar mereka bisa lebih mudah dalam belajar. Akhirnya pada tahun 1973 didirikanlah sebuah pesantren Al Qur’an yang diberi nama “Yanbu’ul Qur’an”. Nama Yanbu’ul Qur’an yang berarti mata air (sumber) Al Qur’an dipilih oleh KH. M. Arwani sendiri yang dipetik dari Al Qur’an Surat Al Isra’ ayat 90. Dengan nama tersebut diharapkan PTYQ bisa benar-benar menjadi sumber ilmu Al Qur’an.

Paling tidak ada empat tujuan pokok didirikannya PTYQ saat itu, pertama, menyediakan pemukiman bagi para santri yang ingin belajar dan menghafal Al Qur’an. Kedua, memudahkan kontrol kepada para santri dan memperlancar keberlangsungan proses belajar mengajar. Ketiga, menjaga kemurnian Al Qur’an. Dan keempat, turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pada tanggal 1 Oktober 1994 KH. M. Arwani berpulang ke rahmatullah. Sepeninggal beliau pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh putra-putra beliau, KH. M. Ulin Nuha Arwani dan KH. M. Ulil Albab Arwani, serta seorang murid kesayangan beliau yaitu KH. Muhammad Mansur Maskan (alm).

Saat ini terdapat kurang lebih 200 orang santri putra yang belajar di pesantren ini. Mereka datang dari berbagai kota dan dengan latar pendidikan yang berbeda-beda. Untuk menjadi santri di PTYQ dewasa, pendidikan minimal calon santri adalah lulusan SLTP/Mts atau yang sederajat. Mereka juga harus mengikuti tes masuk terlebih dahulu berupa tes lisan, tulisan dan praktek membaca Al Qur’an. Pendaftaran setiap tahunnya dibuka pada bulan Syawal (tanggal 11-25) dan kegiatan belajar mengajar bagi santri baru dimulai pada awal bulan Dzulqo’dah.

PTYQ juga membuka kesempatan bagi santri-santri dari pesantren lain untuk belajar Al Qur’an. Setiap bulan Ramadhan, PTYQ menerima santri puasanan dan mengadakan kelas makhroj bagi mereka selama tujuh belas hari yaitu tanggal 1 hingga 17 Ramadhan.

==========================

Kegiatan Belajar Mengajar

 

Kegiatan belajar mengajar di PTYQ dewasa putra dimulai sejak subuh hingga menjelang malam. Kegiatan rutin yang berkenaan dengan Al Qur’an diantaranya adalah setoran hafalan pada KH. M. Ulin Nuha Arwani, yang dimulai dari ba’da Subuh hingga selesai. Santri yang mengikuti kegiatan ini adalah para khotimin yaitu santri yang telah mengikuti ujian akhir/masalan; dan santri yang telah setor minimal 20 juz kepada KH. Ulil Albab Arwani

Berikutnya adalah setoran hafalan pada KH. M.Ulil Albab Arwani, dimulai pukul 05.30 s.d selesai. Para santri diperbolehkan setoran hafalan Al Qur’an kepada KH. Ulil Albab bila telah selesai belajar makhroj selama kurang lebih 8 bulan atau telah mendapat rekomendasi dari ustadz kelas tahsin dan departemen pendidikan. Pada jam ini pula para khotimin yang melanjutkan belajar qiro’ah sab’ah menyetorkan hafalan qiro’ahnya.

Selanjutnya jam wajib madrasah pagi. Kegiatan ini dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 11.00. Diampu oleh ustadz yang telah ditunjuk dan dilaksanakan di kelas sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Penentuan jenjang kelas didasarkan pada jumlah juz yang telah disetorkan kepada KH. Ulil Albab Arwani.

Adapun jenjang kelas madrasah pagi dibagi menjadi:

Halaqoh Ula, untuk santri persiapan ( baru )

  1. Halaqoh Tsaniyyah, untuk santri yang setoranya kepada Romo KH. M. Ulil Albab Arwani ≤ juz 10
  2. Halaqoh Halaqoh Tsalitsah, untuk santri yang setoranya kepada Romo KH. M. Ulil Albab Arwani ≤ juz 20
  3. Halaqoh Rabi’ah, untuk santri yang setoranya       kepada Romo KH. M. Ulil Albab Arwani ≤ juz 30
  4. Halaqoh Khomisah, untuk santri yang hatam setor kepada Romo KH. M. Ulil Albab Arwani tapi belum mengikuti test masalan ( persiapan masalan )

Sebagai penunjang hafalan Al Qur’annya, kepada para santri juga diajarkan beberapa kitab klasik tentang Tafsir (tafsir jalalain), (At Tibyan), Asbabun Nuzul, Fiqih (Kasyifatu Saja), Tasawuf (Risalatul Mu’awanah) dan Adab (Nashoihul Ibad).

Komentar

comments

Tentang ptyqpa